Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, menyatakan bahwa lebih dari 10 negara telah menawarkan kesepakatan perdagangan "sangat baik dan luar biasa" kepada Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor baru. Dalam wawancara dengan Fox Business, Hassett juga menegaskan bahwa AS "100% tidak" akan mengalami resesi pada tahun 2025.
Hassett membantah tuduhan "insider trading" (perdagangan orang dalam) yang diduga melibatkan Trump atau pejabat Gedung Putih sebelum pengumuman penundaan tarif "timbal balik" oleh Trump pada Rabu lalu. Menurutnya, Trump, bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, sedang mempertimbangkan apakah tawaran dari negara-negara tersebut "cukup memuaskan".
"Pertanyaannya sekarang, apakah kita harus menandatangani kesepakatan satu per satu atau sekaligus dalam paket?" ujar Hassett.
Ia juga mengklaim bahwa para eksekutif bisnis melaporkan
gelombang relokasi operasi perusahaan dari luar negeri kembali ke AS. Di sisi
lain, konsumen disebut membeli produk impor secara besar-besaran karena
khawatir tarif akan naik di masa depan. "Semua data terlihat sangat
positif, termasuk laporan pekerjaan AS yang sangat kuat," tambahnya.
Kekhawatiran vs Optimisme
Meski Hassett optimis, survei terbaru menunjukkan 62% CEO AS
memperkirakan resesi atau penurunan ekonomi dalam 6 bulan ke depan. Ray Dalio,
pendiri Bridgewater Associates, bahkan memperingatkan bahwa kebijakan tarif
Trump berpotensi memicu "kekacauan lebih parah dari resesi".
Pasar saham AS sempat merespons positif kabar penundaan tarif Trump pada Rabu lalu, dengan indeks saham menguat. Namun, kebingungan muncul setelah Trump membantah pemberian pengecualian tarif untuk produk elektronik melalui unggahan di Truth Social, menyatakan tarif akan diterapkan dalam "kategori berbeda" nanti.
Kontroversi dan Tuntutan Investigasi
Lonjakan saham setelah penundaan tarif memicu kecurigaan
Partai Demokrat. Mereka menduga ada oknum yang memanfaatkan informasi internal
untuk mengambil keuntungan di pasar. Beberapa menit sebelum pengumuman resmi,
terjadi peningkatan tajam pembelian call options (opsi beli saham), yang
biasanya mengindikasikan spekulasi kenaikan harga.
Senator Cory Booker (Demokrat) menyerukan investigasi Kongres, sementara anggota DPR dan Senat dari Partai Demokrat meminta Komisi Sekuritas AS (SEC) menyelidiki kemungkinan manipulasi pasar. Hassett menampik semua tudingan, menyatakan, "Tidak ada insider trading di Gedung Putih," namun mengakui pihak berwenang perlu memeriksa fluktuasi pasar yang tidak biasa.
Apa Selanjutnya?
Trump sebelumnya mengumumkan pengurangan tarif timbal balik
dari 25% menjadi 10% untuk 90 hari, yang disebut Hassett sebagai "strategi
negosiasi" untuk memaksa mitra dagang AS berkompromi. Sementara itu,
perdebatan politik terus memanas seiring ancaman investigasi dari oposisi.
Menurut kamu gimana?

No comments:
Post a Comment